MENJELANG PURNAMA



Lentik bulu matanya masih disimpan dalam tidur. Ia tak bergerak, bahkan ketika aku membelai rambutnya yang tergerai berantakan. Wajahnya masih menyisakan lelah setelah tangis yang nyaris tak kunjung padam semalam. Aku tahu benar, rasa sakit yang menumpahkan air matanya tak berasal dari luka badan mana pun. Ia hanya merasakan pedih yang baru dikenalnya saat itu, ketika mendadak aku sengit beradu tatap dengan wanita yang merasakanku sepanjang hidupnya.

Semalam memang bukan purnama yang baik bagi Nisa. Ia masih terlalu kecil untuk aku bawa berkeliaran di bawah rintik hujan, menerobos malam untuk mengetuk pintu rumah besar yang hampir sebulan belum aku kunjungi. Sejak bulan lalu, tiang-tiang di latar rumah masih menyimpan rahasia besar antara aku dan Ibu. Di situlah awal mula ada tatap yang tak habis-habis setelah hampir dua tahun kami mampu menyimpannya rapat-rapat tanpa cela.
Nisa batuk-batuk hampir seminggu. Panasnya naik turun. Kucoba memberinya pereda panas dan obat batuk tapi Ibu memandang sinis setiap suapan yang masuk ke mulut Nisa dari tanganku.
“Ilmu kedokterannmu tidak akan berguna, Fat. Nisa akan tetap sakit seperti itu,” kata Ibu memulai. Aku mencoba diam dan tetap meneruskan menyendokkan obat. Tapi, Ibu sendiri yang membuatnya panjang. “Seribu obat pun kamu masukkan, dia tetap begitu. Tidak sembuh!” Aku mendongak, menyambut seruannya yang mulai melengking.
“Kalau begitu apa obatnya kalau Ibu memang tahu?” Kami bersitatap bukan seperti anak dan Ibu. Matanya tajam menatapku sambil menahan geram.
“Sudah Ibu bilang dari dulu, tapi kamu tetap saja keras  kepala!”
“Tentang apa? Kayla?”
“Siapa lagi kalau bukan dia? Perempuan yang lebih kamu dengarkan dari pada ibumu yang sudah susah payah membesarkanmu.”
Aku berontak, berdiri meninggalkan Nisa yang kebingungan di atas kursi. Entah mengapa emosiku terbakar begitu saja setiap kali nama Kayla diungkit. Ibu memang tidak menyukainya semenjak aku memutuskan menikahi perempuan pilihanku itu. Tapi, Ibu selalu diam hingga tiga tahun usia pernikahan kami, ketika Kayla memilih melanjutkan sekolahnya. Bila tidak dipenuhi kini, mungkin tak aka nada kesempatan baik lagi setelah ini.
“Apa kamu akan terus menyuruhnya sekolah tinggi-tinggi dan menelantarkan anaknya sendirian di rumah? Membiarkan suami dan mertuanya kerepotan mengurus anak yang seharusnya menjadi tanggung jawab dia?”
“Ibu selalu menyalahkan Fat dan Kayla. Kami sudah sepakat…”
“Ya, kesepakatan yang benar-benar menunjukkan kelemahanmu sebagai lelaki.”
“Apa maksud Ibu?”
“Kalau sedari dulu kamu menuruti kemauan Ibu untuk meneruskan sekolah dan menjadi spesialis, tak akan begini jadinya. Tapi, kamu memaksa, berdalih dengan jadi dosen yang gajinya kecil itu kamu bisa menjadi besar. Ibu sudah menyangka sejak awal. Mustahil.”
“Apanya yang mustahil? Ini pilihan yang ideal buat Fat.”
“Makan saja idealism itu. Toh, sampai sekarang kamu masih di bawah ketiak Kayla”
Perlahan wajah Kayla muncul menggantikan wajah Ibu. Pipinya yang penuh dan lembut menggantikan pipi Ibu yang kempot. Hidung Kayla menyingkirkan hidung Ibu, mata Kayla menggeser mata Ibu. Aku tergagap, diam.
Suara Ibu telah melengking tanpa mampu kudengar jelas. Aku tak tahu benar apa yang diteriakkan Ibu di depanku, tapi yang pasti tentang Kayla, perempua cantik yang gaji dari perusahaannya saja berkali-kali lipat dari gaji dosen di universitas paling terpandang di negeri ini. Pasti tentang Kayla telah diam-diam merampas aku dan Ibu dengan segala kejelian otak dan perangainya. Pasti tentang Kayla yang dianggap perempuan tak tahu adat karena tak bisa paham sampai mana batas peran perempuan seharusnya.
Saat pertama kali mengenal Kayla, aku sudah berusaha melapangkan dada untuk bersabar atas segala keputusannya di masa depan. Kecerdasannya adalah anugerah yang tak terkira. Bukan hanya untukku, untuk Nisa, tapi juga untuk masyarakat ini.
Pilihannya bergelut dalam dunia tumbuhan, bergabung dalam organisasi dunia yang menentang pemanasan global, dan prestasi akademisnya yang begitu membanggakan, bagaikan dua sisi yang bertolak belakang bagi aku dan Ibu. Terang di kepalaku dan kelam di mata Ibu.
Jauh sebelum aku bertemu dengan Kayla, Ibu hanya punya satu pesan yang dititipkannya kepadaku pada sebuah petang, tepat di samping Ayah yang terbaring sakit-sakitan. “Kalau sampai akhirnya kamu memilih pendamping, pastikan dia perempuan yang baik, yang menjaga harkat dan martabat keluarganya. Santun di rumah dan selalu meluangkan waktu untuk kebahagiaan anak-anaknya.”
Pesan itu aku genggam erat, bahkan sampai saat rengkuhan tanganku di genggaman ayah Kayla dalam sebuah janji paling mengikat di muka bumi. Aku menyimpannya dalam-dalam hingga suatu saat Kayla meminta aku menjawab sebuah pertanyaannya. Saat itu kelamnya malam telah memayungi tidurnya Nisa yang berumur 8 bulan. “Bagaimanakah aku dianggap orang nanti jika aku meninggalkan anakku yang belum genap setahun?”
Aku meraba punggungnya, menepuknya berkali-kali. Kayla hanya menunduk, mematuh dalam setiap kata yang meluncur dari lidahku. “Tidak bisakah kamu melihat pancaran sinar matamu sendiri, Kay? Sinar yang semula aku yakini mampu mengubah dunia di sekelilingmu. Dengan itulah rangkuhanmu akan semakin luas. Jangkaulah.”
“Perempuan yang seperti aku tak perlu sekolah terlalu tinggi. Apa kata orang kalau aku terus mendahuluimu?” Kayla menari dalam kegalauan.
Aku yang sesungguhnya berkeras tanpa tekanan siapa pun. Kayla sudah seperti roket dan aku tidak ingin menghentikan semburan gas yang mendorongnya terbang. Tak ada kenistaan yang bersisa bagiku jika kemudian ia memang harus melambung tinggi jauh di atasku. Kayla memang perempuan yang baik sedari dulu. Dari cahaya dalam matanya aku sudah mampu menerka kepatuhannya.
“Bagaimana dengan Nisa?” Begitu lirihnya setiap kali kami berpandangan.
“Betapa bangganya dia jika suatu saat ia mampu membonceng seorang doktor di sepedanya, yang mungkin tidak dirasakan teman-teman sebayanya. Dia akan tumbuh baik bersamaku, lalu bersama kita.”
Nisa tak tahu apa-apa saat Kayla mengecup keningnya dan melambaikan tangan tanda kepergian. Nisa juga tak mampu bicara sepatah kata pun untuk menitipkan rindunya kepada Kayla. Ia hanya bisa mendengar bisik kecil Kayla, “Ibu akan memetik purnama untukmu, di bawah gerimis. Biar Ibu basah, sakit, kepayahan, tidak ada yang bisa menghalangi cahaya purnama memancar dari wajahmu, Nisa.”
Titipan rindu itu menderas di pelupuk mata Kayla. Sejak saat itu, Nisa tak pernah bertanya kepadaku. Karena setiap kali gerimis datang di bawah purnama, Nisa berdiri menatap langit, mencari-cari arah angin yang diharapkannya menerbangkan tangan Ibunya hingga menggapai purnama. Nisa pula yang selalu menamatkan waktunya dalam rimbun tetumbuhan setiap kali aku bercerita betapa cintanya Kayla pada dunia flora.
Waku mengerjap, berkelip-kelip
Wajah Kayla berganti lagi dengan wajah Ibu. Habis sudah lengkingannya dari air mata yang menggenang segerah tumbuh meruah. Ibu masih berdiri di sana, langkah di hadapanku. Aku melihat tubuh ringkihnya mengaduh, bergetar. Isaknya mengakar hingga aku tak sanggup mengutarakan kepedihannya yang menjalar.
“Lelaki itu qowwamun, pemimpin  buat perempuan. Catat kata-kata Tuhan itu, Fat.”
Aku mengela di ujung suaranya. Aku merasa tak sama sekali menghilangkan kepemimpinanku, juga Kayla. Bila Kayla dibutuhkan organisasinya, maka ia ada untuk mereka. Jika Kayla baik untuk negaranya, maka aku minta agar ia begegas untuk melangkah. Di sela-sela rimbunnya kemegahan, aku yakin Kayla menyimpan kerinduan besar pada Nisa, padaku. Dan selalu saja ia bergurau dalam suara yang menyelinap di udara, “Segera aku ingin memijat pundakmu, menyeduhkan kopi hangat di setumpuk pagimu.”
Pipi Ibu makin basah. Aku tak tahu lagi harus berkata apa. Nisa diam-diam tertidur usai menangis mendengar lengkingan suara aku dan neneknya.
Gerimis masih turun di luar sana. Purnama meredup menutup awan sejak Nisa terlelap dalam keruh kepay.
***
Pelan-pelan kelopak mata Nisa membuka, merelakan lentik bulu matanya diterpa cahaya. Aku memandang kerluhan jiwanya yang melonjak-lonjak di sela batuknya yang memangsa saat melihat ribuan pohon menjulang di atas bukit. “Pohonnya banyak sekali Ayah,” katanya memulai. “Mungkin ibu yang menanamnya sampai tak sempat pulang ke rumah?” Dahi di wajah mungilnya mengernyit.
Entah, apakah kali ini ia menagih janji lagi, pada purnama di ujung malam.



Penulis : Siswadi (Mahasiswa Pendidikan Fisika, FKIP UNRAM Angkatan 2010)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar