GERSANG


Sudah gersang, tersulut api
Tandus tak sudi menepi
Rintik-rintik hujan tak mampu membasahi
Malah semakin mendidih di tengah panasnya api
yang melahap lubuk-lubuk retak bumi ini

NGULATI WANGSA



Hidup bukan sepermukaan bumi
napas tak searah angin
diri tak sewajah muka
duka tak separah nestapa
bahagia tabir rasa yang selalu rahasia
perempuan itu percaya
bahwa dia hidup
Aku dari tiada, menuju tiada, berbekal tiada, ngulati wangsa
dan kembali ke tiada 1]

Arus Jangkuk mengalir deras dan lepas ke bibir pantai, membelah jantung kota. Seorang perempuan tua keriput, mata menggua, dan rambut tipis memutih sedang duduk seorang diri. Termenung menanti. Sesekali bola matanya liar dan nyalang menyapu sepi. Bibirnya bergerak perlahan melantunkan Tembang Kumambang:

MEMOTRET REALITAS SOSIAL DARI SENI DRAMA DAN TEATER



Abstrak: Drama / teater adalah salah satu sastra yang amat popular hingga sekarang. Bahkan di zaman ini telah terjadi perkembangan yang sangat pesat di bidang teater. Contohnya sinetron, film layar lebar, dan pertunjukan-pertunjukan lain yang menggambarkan kehidupan makhluk hidup. Teater adalah merupakan potret realita sosial, kenapa dapat dikatakan
demikian? Karena teater merupakan suatu kreasi manusia dalam bentuk seni, yang berusaha menggambarkan, suatu permasalahan yang ada di dalam masyarakat dengan 'mengeluarkan' kata-kata dan watak melalui perilaku yang dipentaskan. Istilah teater mempunyai persamaan makna dengan drama ataupun sandiwara. Teater sendiri menurut sejarahnya merupakan salah satu tempat untuk memuja para dewa yang dilakukan oleh manusia.
Kata kunci: drama, teater, realitas sosial



I.                   PENDAHULUAN
Tuhan telah menciptakan manusia dengan kesempurnaan, karena ia telah dilebihkan dari mahluk ciptaan Tuhan yang lainnya. Manusia diberi akal yang  berfungsi untuk melihat suatu realita dan gejala-gejala tentang alam semesta (makro kosmos) dan pada diri manusia (mikro kosmos). Tuhan menciptakan mata bukan hanya untuk melihat suatu yang indah-indah dan sedap dipandang mata saja, tetapi manusia juga harus melihat suatu realita sosial yang ada disekitarnya. Tuhan menciptakan pendengaran bukan hanya untuk mendengarkan suara yang merdu saja, tetapi telinga diciptakan juga untuk mendengar tentang persoalan-persoalan sosial yang ada di dalam masyarakat
baik itu tentang ketidakadilan, penindasan, maupun masalah kesejahteraan dan kemanusiaan yang sering terjadi dalam suatu masyarakat.
Ada sebuah syair lagu yang menyatakan bahwa dunia ini adalah panggung sandiwara dimana kita adalah pemerannya. Kenapa ada ungkapan seperti itu? Karena dunia ini adalah merupakan suatu panggung raksasa, arena bermain, berekspresi, yang menggambarkan kehidupan masyarakat. Itu adalah sedikit gambaran tentang manusia sebagai mahluk sosial. Apapun yang lahir dari kreativitas manusia adalah merupakan suatu karya yang lahir dari realita sosial, karena dia menggambarkan diri dan masyarakat sesuai dengan realita.

JANJI SENJA


PEMAIN        :
1.      IBU
2.      ANAK (GADIS)

SETTING      :
RUMAH DENGAN HALAMAN DAN TEMPAT DUDUK (BANGKU PANJANG) UNTUK BERSANTAI

LAMPU MENYOROT  HANYA DARI SEBELAH SISI PANGGUNG MENGGAMBARKAN KEADAAN SENJA.


ADEGAN 1
KALA SENJA ITU IBU DAN ANAK GADISNYA SEPERTI BIASA DUDUK DI BANGKU PANJANG DEPAN RUMAHNYA. MEREKA TENGAH MENATAP SENJA MENUNGGU, MENANTI SESEORANG YANG TELAH LAMA DINANTI.
SETELAH LARUT DALAM DIAM BEBERAPA SAAT, SANG ANAK MEMULAI PEMBICARAAN.

ANAK
Ibu...Jangan kau ceritakan lagi apa pun tentang Ayah.

IBU
Kenapa?

ANTARA AKU, DOSA DAN TUHAN

Aku bukannya tak takut pada-Mu
tapi aku hanya malu.
Aku bukannya tak tau diri menjadi hamba- Mu
tapi aku sadar diri tak suci.

Aku tak ingin menjadi penjilat rahmat-Mu seperti orang-orang itu
Aku ingin belajar ikhlas mencintai-Mu

Aku tak mau menjadi pemuja surga,
atau pembenci neraka
aku ingin ridha karena-Mu.

Tuhan maafkanlah aku.
Izinkanlah saat ini aku menjadi pendosa yang nyata
tanpa bertopeng agama atau kasta yang mereka anggap luar biasa.

Tuhan restui aku.
Restui aku bermandikan peluh noda nista nan durjana.
karena aku masih buta akan Arsy dan Kursi-Mu





By Fan