Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

SEBUAH ALASAN

Ini semua persoalan masa depan
Haruskah? Harus! Jawabku
Mau tak mau
Demi orangtuaku
Demi kekasihku

TIADA

ringkih hati melirih pedih
sendiri. dalam sunyi jalangnya mimpi
terkapar jelata terinjak kuasa orang-orang berilmu
aku. seonggok danging busuk

IDUL FITRI 1435

Senja menutup berkah ramadhan
Rindu tertinggal,
hingga tahun depan yang mungkin
(tidak) akan kita temukan lagi

4/3

ku tudung hitamku lekat berdekap selimut senyuman
menghamba inginmu tertusuk duri tajam menikam
payah! egoisme tak logis begitu naif memperbudak hasratmu

LUBANG DALAM HATI

Lubang dalam hati
Seperti toples tanpa isi
Tertutup namun hampa dalamnya
Tanpa udara, kosong tak ada apa-apa

MONOLOG KEDAMAIAN BISIKAN ANGIN MALAM

Seorang durjana menikmati tiada
dari titian semesta yang memenjarakan asa
Airmatanya berbait doa, bersenandung
mengandung syair cinta — sirna.

22

ulang tahunku mendua rasa
bahagia dan dilema
rasa seolah permainkan asa
mencinta dan dicinta
atau sendiri saja

MARET

maret tanggal satu
tepatnya malam minggu
aku masih menghitung kalender di dinding kamarku
semakin dekat
hari itu—kelahiranku

JATUH HATI

Sepertinya aku telah jatuh hati 
Setelah berulangkali penolakan
dari gadis-gadis yang kukagumi

KEBENCIAN


pada akhirnya aku akan memilih untuk sendiri
menyendiri setelah semua yang kualami
setelah segala benci lelah mencaci diri
sendiri; dibodohi kasih yang hanya ilusi

MASIH TENTANGMU


Entah apa yang membuatku mengejarmu
Cinta? Barangkali aku terlalu naif menganggap ini cinta
Ambisi? Aku pun tak yakin juga
toh apa motivasinya?

LIMBAH NISTA

Iblis telah bertahta di hatiku
Maafkanlah, Dinda
Hasrat lelakiku terlalu durjana
Meraung menodai tulusmu
Licik pada ikhlasmu

PEREMPUAN MALAM

Ada secarik enggan
terselip di sela cumbuan
pria jalang yang menunggangnya dengan gagah.

TANPA TEMA

Membunuh luka ini dalam puisi
pun aku yang mati
Malang nian,
di rintik hujan kau acuhkan aku
dengan senyuman

IMAGINARY

Dinda...
Apa kabarmu?
Masihkah merindu?
Tak terasa sudah empat tahun berlalu

Dan aku masih meramu candu pada bayangmu,