Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

MENJELANG PURNAMA



Lentik bulu matanya masih disimpan dalam tidur. Ia tak bergerak, bahkan ketika aku membelai rambutnya yang tergerai berantakan. Wajahnya masih menyisakan lelah setelah tangis yang nyaris tak kunjung padam semalam. Aku tahu benar, rasa sakit yang menumpahkan air matanya tak berasal dari luka badan mana pun. Ia hanya merasakan pedih yang baru dikenalnya saat itu, ketika mendadak aku sengit beradu tatap dengan wanita yang merasakanku sepanjang hidupnya.

NGULATI WANGSA



Hidup bukan sepermukaan bumi
napas tak searah angin
diri tak sewajah muka
duka tak separah nestapa
bahagia tabir rasa yang selalu rahasia
perempuan itu percaya
bahwa dia hidup
Aku dari tiada, menuju tiada, berbekal tiada, ngulati wangsa
dan kembali ke tiada 1]

Arus Jangkuk mengalir deras dan lepas ke bibir pantai, membelah jantung kota. Seorang perempuan tua keriput, mata menggua, dan rambut tipis memutih sedang duduk seorang diri. Termenung menanti. Sesekali bola matanya liar dan nyalang menyapu sepi. Bibirnya bergerak perlahan melantunkan Tembang Kumambang: